Bismillahirrahmanirrahiim
Sebuah
Siklus
Saya seorang perempuan yang berasal
dari Desa, dalam tulisan ini saya ingin memberikan gambaran mengenai kondisi
masyarakat desa terutama perempuan. Desa kami merupakan salah satu desa yang
bisa dikatakan sebagai pusat kebudayaan Sunda, dimana norma, nilai, adat, dan
kebudayaan disini masih sangat terasa dan mempengaruhi kehidupan sehari-hari
masyarakat. Banyak orang yang menyebut bahwa desa kami adalah desa adat,
orang-orang masih memegang kebiasaan yang diturunkan oleh nenek moyang, mulai
dari bentuk rumah, upacara adat, tatakrama, dan aturan-aturan lain. Adapun
pakaian yang masyarakat kenakan hanya sebagian yang masih mempertahankan,
biasanya para orang tua yang menggunakan kebaya dan *samping, untuk kaum
milenial sudah jarang yang menggunakan pakaian adat tersebut untuk sehari-hari
dan hanya digunakan dalam kegiatan tertentu seperti pentas seni, pernikahan,
perayaan hari kemerdekaan dan lain sebagainya.
Kebudayaan kami tidak hanya sebatas
sesuatu yang berbentuk fisik dan dapat diamati, pola pikir masyarakat juga
terbentuk karena pengaruh budaya, salah satunya yaitu pola pikir bahwa setinggi
apapun pendidikan seorang perempuan maka akan kembali ke dapur juga. Hal
tersebut yang kerap saya renungkan, terlebih lagi saya merupakan salah satu
penduduk desa yang melanjutkan sekolah hingga ke perguruan tinggi. Untuk
pemuda-pemuda di daerah kota, mungkin melanjutkan sekolah hingga ke perguruan
tinggi merupakan hal yang biasa, terkadang juga akan merasa gengsi apabila
tidak melanjutkan sekolah sementara teman sebaya mereka menuntut ilmu di
universitas. Memang tidak semua masyarakat di kota memiliki tingkat pendidikan
yang tinggi, namun saya yakin bahwa sebagian besar pemuda yang telah menyelesaikan
studi sekolah menengah atas memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke
universitas. Kondisi tersebut sangat berbeda dengan daerah saya, dimana banyak
pemuda dan pemudi yang tidak dapat mengenyam pendidikan tinggi, bukan karena
mereka tidak memiliki dana untuk bersekolah, kondisi perekonomian keluarga saya
mungkin tidak lebih baik daripada mereka ketika saya mendaftar sekolah. Mereka
tidak melanjutkan pendidikan karena pola pikir dan kebiasaan masyarakat yang
ada di sekitarnya. Tapi saya cukup beruntung karena memiliki orang tua yang
cerdas dan memberi dukungan ketika saya ingin melanjutkan sekolah, walaupun
dulu sempat terancam tidak dapat melanjutkan sekolah setelah lulus SD (kalau
diceritakan panjang, nanti saya jadi malah curhat).
Di daerah kami, tidak sulit untuk
menemukan perempuan-perempuan muda yang sudah menggendong anak di usia yang
seharusnya masih bersekolah. Memiliki anak perempuan yang cepat mendapatkan
pasangan dan menikah menjadi gengsi tersendiri. Anda mungkin akan merasa miris
ketika melihat perempuan muda yang masih dibawah umur telah memiliki tanggung
jawab yang begitu besar yaitu menjadi seorang istri dan ibu, tapi bagi kami itu
adalah pemandangan yang biasa. Justru ketika saya memutuskan untuk tetap
menempuh pendidikan sekolah menengah atas lalu berkuliah di salah satu
universitas negeri, merupakan suatu hal yang tidak biasa. Orang-orang terkadang
berfikir bahwa membiarkan anak perempuan pergi merantau itu merupakan hal yang
menakutkan, karena prinsip masyarakat disana yaitu makan tidak makan yang penting kumpul. Prinsip tersebut memang
memiliki plus dan minus masing-masing. Orang tua saya pun bukannya ringan
membiarkan anak perempuannya pergi merantau untuk mencari ilmu, tetapi orang
tua saya yakin bahwa dengan ilmu dan pendidikan merupakan salah satu cara untuk
memperoleh taraf hidup yang lebih baik.
Berdasarkan apa yang saya amati,
terdapat suatu siklus ketika masyarakat memiliki kebiasaan untuk tidak
menyekolahkan anak-anak mereka karena dinilai akan membuang waktu dan
menghabiskan uang, lebih baik mereka langsung bekerja saja. Anak laki-laki yang
memperoleh pendidikan setingkat SD ataupun SMP akan mulai bekerja baik itu
diladang, pergi ke kota untuk berjualan asongan, kerja di pabrik, atau hanya
diam menganggur berkumpul bersama teman-teman “senasibnya”. Perempuan umumnya
lebih banyak yang tidak melanjutkan sekolah, mereka akan berdiam di rumah untuk
membantu pekerjaan ibunya sembari menunggu seseorang yang mungkin datang dan
meminangnya. Para orang tua akan sangat kelabakan apabila mendapati teman-teman
sebaya anak perempuannya sudah banyak yang menikah, selalu ada kekhawatiran
bahwa anaknya “tidak lebih laku” daripada yang lain, walaupun sebenarnya mereka
masih dibawah 18 tahun. Alhasil pernikahan terkadang menjadi ajang lomba bagi
orang tua yang memiliki anak perempuan tersebut. Padahal ada banyak hal yang
harus dipersiapkan dan dipahami oleh perempuan-perempuan muda tersebut sebelum
mengarungi sebuah bahtera yang biasa kita sebut rumah tangga.
Kurangnya pengetahuan akan banyak
hal seringkali membuat mereka syok dengan kehidupan setelah pernikahan. Selain
itu bagi orang yang telah menikah memiliki anak merupakan sebuah “gengsi lagi”
tanpa mempertimbangkan berapa umur perempuan tersebut, tentunya ini akan
mempengaruhi juga kesiapannya termasuk kesiapan mental, sebagaimana yang kita
ketahui bahwa pemuda pemudi dibawah 18 tahun biasanya sedang asyik-asyiknya
bersosialisasi dengan teman sebaya, bersekolah, hang out bersama teman-teman,
dan kegiatan lain yang menyenangkan bagi anak-anak muda. Sedangkan dengan
pernikahan yang dilakukan pada usia yang belum matang serta perencanaan untuk
memiliki keturunan yang cenderung diburu-buru membuat perempuan-perempuan ini
kehilangan masa mudanya untuk mengurusi anak.
Seiring berjalannya waktu,
perempuan-perempuan yang menikah di usia dini tersebut akan menjadi seorang
yang berusia dewasa, begitupun dengan anaknya yang akan bertambah besar dan
harus bersekolah. Karena orang tua tersebut menikah diusia muda dan belum cukup
mendapatkan pendidikan serta pekerjaan yang cukup untuk membiayai keluarga,
akhirnya anak mereka juga tidak disekolahkan dengan alasan yang sama yaitu
tidak memiliki dana. Oleh karena itu, anak mereka akan menjadi seorang pekerja,
dan anak perempuannya membantu pekerjaan rumah sambil menunggu kedatangan
seseorang yang mungkin akan melamarnya. Hal serupa terjadi secara terus menerus
dari generasi ke generasi, dan itu semua dinilai biasa saja. Tentunya apa yang
saya jelaskan ini tidak dimaksudkan untuk menggeneralisir semua keluarga yang ada di daerah saya. Tapi fenomena seperti ini
sangat sering dijumpai.
Salah satu upaya yang bisa kita
lakukan untuk bisa keluar dari lingkaran tersebut adalah dengan berusaha
mencari ilmu dan mengembangkan potensi diri secara maksimal. Secara pribadi
menyadari bahwa perjalanan saya memang masih panjang, tapi berusaha lebih baik
daripada bergantung kepada takdir. Bukannya dalam Q. S. Ar-Ra’d ayat 11
dijelaskan “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum mereka mengubah
keadaan diri mereka sendiri” ?
Hidup cuma satu kali, jangan sampai
sekedar dimaknai dengan kelahiran, tumbuh dan menjadi dewasa, berkeluarga, lalu
bekerja bekerja dan bekerja, pensiun, lalu meninggal dunia. Saya pribadi ingin
memanfaatkan kehidupan yang Allah beri dan hanya satu kali ini untuk dapat
dapat diwarnai dengan kebermanfaatan untuk orang banyak.
Itu
yang terjadi di daerahku, bagaimana dengan daerahmu? Sharing yuk di kolom
komentar
