Thursday, September 12, 2019


Bismillahirrahmanirrahiim

Sebuah Siklus

            Saya seorang perempuan yang berasal dari Desa, dalam tulisan ini saya ingin memberikan gambaran mengenai kondisi masyarakat desa terutama perempuan. Desa kami merupakan salah satu desa yang bisa dikatakan sebagai pusat kebudayaan Sunda, dimana norma, nilai, adat, dan kebudayaan disini masih sangat terasa dan mempengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat. Banyak orang yang menyebut bahwa desa kami adalah desa adat, orang-orang masih memegang kebiasaan yang diturunkan oleh nenek moyang, mulai dari bentuk rumah, upacara adat, tatakrama, dan aturan-aturan lain. Adapun pakaian yang masyarakat kenakan hanya sebagian yang masih mempertahankan, biasanya para orang tua yang menggunakan kebaya dan *samping, untuk kaum milenial sudah jarang yang menggunakan pakaian adat tersebut untuk sehari-hari dan hanya digunakan dalam kegiatan tertentu seperti pentas seni, pernikahan, perayaan hari kemerdekaan dan lain sebagainya.
            Kebudayaan kami tidak hanya sebatas sesuatu yang berbentuk fisik dan dapat diamati, pola pikir masyarakat juga terbentuk karena pengaruh budaya, salah satunya yaitu pola pikir bahwa setinggi apapun pendidikan seorang perempuan maka akan kembali ke dapur juga. Hal tersebut yang kerap saya renungkan, terlebih lagi saya merupakan salah satu penduduk desa yang melanjutkan sekolah hingga ke perguruan tinggi. Untuk pemuda-pemuda di daerah kota, mungkin melanjutkan sekolah hingga ke perguruan tinggi merupakan hal yang biasa, terkadang juga akan merasa gengsi apabila tidak melanjutkan sekolah sementara teman sebaya mereka menuntut ilmu di universitas. Memang tidak semua masyarakat di kota memiliki tingkat pendidikan yang tinggi, namun saya yakin bahwa sebagian besar pemuda yang telah menyelesaikan studi sekolah menengah atas memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke universitas. Kondisi tersebut sangat berbeda dengan daerah saya, dimana banyak pemuda dan pemudi yang tidak dapat mengenyam pendidikan tinggi, bukan karena mereka tidak memiliki dana untuk bersekolah, kondisi perekonomian keluarga saya mungkin tidak lebih baik daripada mereka ketika saya mendaftar sekolah. Mereka tidak melanjutkan pendidikan karena pola pikir dan kebiasaan masyarakat yang ada di sekitarnya. Tapi saya cukup beruntung karena memiliki orang tua yang cerdas dan memberi dukungan ketika saya ingin melanjutkan sekolah, walaupun dulu sempat terancam tidak dapat melanjutkan sekolah setelah lulus SD (kalau diceritakan panjang, nanti saya jadi malah curhat).
            Di daerah kami, tidak sulit untuk menemukan perempuan-perempuan muda yang sudah menggendong anak di usia yang seharusnya masih bersekolah. Memiliki anak perempuan yang cepat mendapatkan pasangan dan menikah menjadi gengsi tersendiri. Anda mungkin akan merasa miris ketika melihat perempuan muda yang masih dibawah umur telah memiliki tanggung jawab yang begitu besar yaitu menjadi seorang istri dan ibu, tapi bagi kami itu adalah pemandangan yang biasa. Justru ketika saya memutuskan untuk tetap menempuh pendidikan sekolah menengah atas lalu berkuliah di salah satu universitas negeri, merupakan suatu hal yang tidak biasa. Orang-orang terkadang berfikir bahwa membiarkan anak perempuan pergi merantau itu merupakan hal yang menakutkan, karena prinsip masyarakat disana yaitu makan tidak makan yang penting kumpul. Prinsip tersebut memang memiliki plus dan minus masing-masing. Orang tua saya pun bukannya ringan membiarkan anak perempuannya pergi merantau untuk mencari ilmu, tetapi orang tua saya yakin bahwa dengan ilmu dan pendidikan merupakan salah satu cara untuk memperoleh taraf hidup yang lebih baik.
            Berdasarkan apa yang saya amati, terdapat suatu siklus ketika masyarakat memiliki kebiasaan untuk tidak menyekolahkan anak-anak mereka karena dinilai akan membuang waktu dan menghabiskan uang, lebih baik mereka langsung bekerja saja. Anak laki-laki yang memperoleh pendidikan setingkat SD ataupun SMP akan mulai bekerja baik itu diladang, pergi ke kota untuk berjualan asongan, kerja di pabrik, atau hanya diam menganggur berkumpul bersama teman-teman “senasibnya”. Perempuan umumnya lebih banyak yang tidak melanjutkan sekolah, mereka akan berdiam di rumah untuk membantu pekerjaan ibunya sembari menunggu seseorang yang mungkin datang dan meminangnya. Para orang tua akan sangat kelabakan apabila mendapati teman-teman sebaya anak perempuannya sudah banyak yang menikah, selalu ada kekhawatiran bahwa anaknya “tidak lebih laku” daripada yang lain, walaupun sebenarnya mereka masih dibawah 18 tahun. Alhasil pernikahan terkadang menjadi ajang lomba bagi orang tua yang memiliki anak perempuan tersebut. Padahal ada banyak hal yang harus dipersiapkan dan dipahami oleh perempuan-perempuan muda tersebut sebelum mengarungi sebuah bahtera yang biasa kita sebut rumah tangga.
            Kurangnya pengetahuan akan banyak hal seringkali membuat mereka syok dengan kehidupan setelah pernikahan. Selain itu bagi orang yang telah menikah memiliki anak merupakan sebuah “gengsi lagi” tanpa mempertimbangkan berapa umur perempuan tersebut, tentunya ini akan mempengaruhi juga kesiapannya termasuk kesiapan mental, sebagaimana yang kita ketahui bahwa pemuda pemudi dibawah 18 tahun biasanya sedang asyik-asyiknya bersosialisasi dengan teman sebaya, bersekolah, hang out bersama teman-teman, dan kegiatan lain yang menyenangkan bagi anak-anak muda. Sedangkan dengan pernikahan yang dilakukan pada usia yang belum matang serta perencanaan untuk memiliki keturunan yang cenderung diburu-buru membuat perempuan-perempuan ini kehilangan masa mudanya untuk mengurusi anak.
            Seiring berjalannya waktu, perempuan-perempuan yang menikah di usia dini tersebut akan menjadi seorang yang berusia dewasa, begitupun dengan anaknya yang akan bertambah besar dan harus bersekolah. Karena orang tua tersebut menikah diusia muda dan belum cukup mendapatkan pendidikan serta pekerjaan yang cukup untuk membiayai keluarga, akhirnya anak mereka juga tidak disekolahkan dengan alasan yang sama yaitu tidak memiliki dana. Oleh karena itu, anak mereka akan menjadi seorang pekerja, dan anak perempuannya membantu pekerjaan rumah sambil menunggu kedatangan seseorang yang mungkin akan melamarnya. Hal serupa terjadi secara terus menerus dari generasi ke generasi, dan itu semua dinilai biasa saja. Tentunya apa yang saya jelaskan ini tidak dimaksudkan untuk menggeneralisir semua keluarga yang ada di daerah saya. Tapi fenomena seperti ini sangat sering dijumpai.
            Salah satu upaya yang bisa kita lakukan untuk bisa keluar dari lingkaran tersebut adalah dengan berusaha mencari ilmu dan mengembangkan potensi diri secara maksimal. Secara pribadi menyadari bahwa perjalanan saya memang masih panjang, tapi berusaha lebih baik daripada bergantung kepada takdir. Bukannya dalam Q. S. Ar-Ra’d ayat 11 dijelaskan “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri” ?
            Hidup cuma satu kali, jangan sampai sekedar dimaknai dengan kelahiran, tumbuh dan menjadi dewasa, berkeluarga, lalu bekerja bekerja dan bekerja, pensiun, lalu meninggal dunia. Saya pribadi ingin memanfaatkan kehidupan yang Allah beri dan hanya satu kali ini untuk dapat dapat diwarnai dengan kebermanfaatan untuk orang banyak.

Itu yang terjadi di daerahku, bagaimana dengan daerahmu? Sharing yuk di kolom komentar